Tak Bahagia - Akhir
Lalu suatu sore, di tengah hujan yang tidak pernah reda, kau berkata, "Aku capek." Aku mengangguk, padahal hatiku seperti kaca yang jatuh dari lantai dua puluh. Tidak pecah—hancur. Hancur perlahan, menjadi butiran debu yang bahkan tidak bisa kukumpulkan lagi.
Kita bertahan. Bukan karena kita kuat, tapi karena kita takut pada kata "selesai". Kita mengganti percakapan dengan kesibukan, mengganti sentuhan dengan jarak, dan mengganti cinta dengan kebiasaan. Setiap pagi, aku bangun di sampingmu, tapi merasa sendirian. Setiap malam, kau pulang ke rumah, tapi matamu seperti mencari pintu keluar. Akhir Tak Bahagia
Inilah akhir tak bahagia. Bukan karena kita berakhir di pelukan orang lain. Bukan karena kita saling membenci. Tapi karena kita membiarkan cinta ini mati perlahan, dan kita memilih untuk menyaksikannya. Tidak ada ledakan. Tidak ada air mata di stasiun kereta. Hanya ada keheningan yang begitu sempurna sehingga kau bisa mendengar patah hati merambat seperti retakan di dinding. Lalu suatu sore, di tengah hujan yang tidak